Senin, 13 Mei 2013

Bahaya Hasad


     Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
     Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya:
  1. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan      kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah.
  2. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, berupaya agar orang lain membencinya, merendahkan martabatnya dll. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada.
  3. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati.
  4. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Nabi bersabda, “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)
  5. Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati.
  6. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
  7. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32) 
  8. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut.
  9. Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya, meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll.
  10. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka.
Ringkasnya, dengki adalah akhlak yang tercela, meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. Orang yang punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orang-orang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak.

Sumber_ Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin
Penerjemah: Ustadz Aris Munandar


Rabu, 06 Maret 2013

Sperma!!! Tahukah anda???



Dalam perspektif kesehatan, air mani dipandang sebagai suatu substansi biologis yang dikeluarkan oleh pria untuk membuahi telur-telur dari wanita melalui proses persatuan sperma-telur. Tapi ada beberapa fakta aneh seputar air mani yang belum banyak diketahui. Apa saja?

Secara definisi, cairan semen atau air mani adalah cairan organik, juga dikenal sebagai seminal fluid, yang biasanya mengandung spermatozoa. Secara fisiologis, air mani disekresikan oleh gonad (kelenjar seksual) dan organ seksual lainnya dari pria atau binatang hermaprodit untuk membuahi sel telur wanita.

Teknologi medis selalu menaruh perhatian dalam menentukan, memonitoring dan meningkatkan kualitas air mani. Dan beberapa studi menemukan fakta-fakta aneh yang terjadi pada air mani.

Dilansir dari HealthMad, berikut beberapa fakta aneh seputar air mani:

1. Air mani dapat menyebabkan alergi
Meski jarang, tapi ada beberapa wanita yang alergi terhadap air mani. Secara medis kondisi ini disebut hipersensitivitas plasma mani manusia (seminal plasma hypersensitivity). Gejala yang ditimbulkan tergantung pada kondisi tubuh dan jumlah air mani yang masuk ke tubuh. Gejala umumnya seperti gatal, kemerahan, lepuh, bahkan kadang-kadang menyebabkan kesulitan bernapas.

2. Air mani dipercaya menjadi sumber energi potensial
Dari perspektif sosial budaya, air mani telah dikaitkan dengan sumber energi potensial dalam pengobatan Cina dan teori Chi Kung. Menurut teori Chi Kung, energi dari tubuh dialihkan dan ditransfer ke organ seksual selama gairah seksual. Teori ini menunjukkan bahwa setelah mengeluarkan air mani, energi tertentu dari tubuh manusia juga sedang dirilis. Hal ini menjelaskan mengapa orang merasa lemah setelah melepaskan sperma.

3. Magis dari penggunaan air mani
Dari wilayah Strickland-Bosavi, Papua Nugini, suku Etoro berpendapat bahwa air mani memberikan kematangan seksual di antara kaum muda suku tersebut. Pada praktik masa lalu, kaum muda dari suku tersebut harus minum air mani tetua suku untuk mencapai kematangan seksual.

4. Rasa air mani tergantung dari makanan yang dimakan pria
Rasa air mani bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi, kebersihan dan faktor eksternal lainnya. Menurut Bodansky dalam bukunya yang berjudul To Bed or Not to Bed (2005), beberapa wanita menyukai rasa air mani tapi yang lain tidak demikian. Sebagai contoh, kafein dan daging merah membuat rasa air mani asam atau pahit.

5. Air mani sebagai obat anti depresi wanita
Hal ini tidak terlalu mengejutkan, karena air mani mengandung beberapa hormon yang mengubah suasana hati, seperti testosteron, estrogen, hormon perangsang folikel, hormon luteinizing, prolaktin dan beberapa prostaglandin yang berbeda. Beberapa telah terdeteksi dalam darah wanita sejam setelah terkena air mani.

6. Air mani adalah nutrisi
Hasil penelitian Johnson dan Everitt dalam bukunya Essential Reproduction (2000) mengungkapkan bahwa air mani berisi kandungan gizi yang tinggi. Dalam ejakulasi khas (kira-kira satu sendok teh), air mani sudah mengandung 150 mg protein, 11 mg karbohidrat, 6 mg lemak, 3 mg kolesterol, 7 persen US AKG kalium, tembaga dan seng.

7. Air mani tidak akan pernah habis
Hal ini sangat dibenarkan, karena menurut para ahli pria hanya memerlukan waktu minimal 15 menit untuk menambah jumlah air mani setelah ejakulasi.
sumber: fenz-capri.blogspot.com

Solusi


Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Barangsiapa yang menyelesaikan suatu urusan, maka dia yang akan mengaturnya". Setelah direnungkan, ternyata benar adanya walaupun tak seratus persen kebenarannya.

Tahun 1945, diakhir Perang Dunia ke-2 Jepang di bom atom oleh Sekutu, setelah sebelumnya hampir tige setengah tahun menjajah negeri kita, dan di tahun yang sama negara kita menyatakan diri sebagai negara merdeka. Kini, telah 56 tahun berlalu, kita saksikan para remaja kita sudah biasa mengendarai mobil dan wara-wiri menggenggam handphone. Bedanya, bangsa kita baru dalam tahap memakai sedangkan orang Jepang sudah menjadi ahli dalam membuat handphone atau mobil serta menguasai dunia dengan produk-produknya. Sungguh mengherankan. Waktunya sama, dan bahkan sumber daya alam kita jauh lebih melimpah. Semua ini patut kita renungkan dalam-dalam, terutama kita sebagai umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini.

Mungkin kita dengan mudah dan ringan akan mengatakan, apalah artinya semua itu jikalau mereka kafirin, mereka itu hina, calon ahli neraka. Itu kata-kata standar yang sering kita lontarkan untuk menunjukkan keutamaan kita selaku umat Islam. Namun, apakah tindakan tersebut menyelesaikan masalah? Seorang Psikolog menyatakan bahwa kebiasaan mencela dan menghina orang lain adalah salah satu pencerminan dari rasa minder karena tak sanggup menandingi sehingga kompensasinya adalah mencaci.

Lebih dari itu, ternyata mau tidak mau kita harus menggunakan banyak produk kaum yang kita hina, bahkan aktifis kekhalifahan, dakwah, dan sebagian kegiatan ibadah kita nyaris kurang efektif tanpa didukung sarana buatan mereka. Dana kita tersedot tanpa berdaya untuk mencegahnya karena memang kita membutuhkannya. Mereka banyak mengatur kehidupan duniawi kita karena mereka terus menemukan solusi untuk kebutuhan hidup di zaman peradaban kini, mulai dari peringkat sandang, papan, teknologi transportasi, keamanan, dan berbagai macam lainnya yang tidak bisa dipungkiri mamfaatnya.

Jikalau kita melihat posisi umat dalam mengatur negeri ini teramat kurang, maka pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah solusi apa yang bisa jelas-jelas kita berikan dan terbukti dirasakan mamfaatnya oleh masyarakat. Selain menjanjikan keselamatan akhirat untuk yang beriman dan beramal shalih, selain dongkol, marah, melecehkan, mencaci mereka yang kita anggap tidak Islami, jangan-jangan energi, pikiran, dan waktu produktif kita terbuang habis oleh kebiasaan mencaci dan mengumbar kebencian. Dan semua itu bersifat reaktif tanpa strategi yang jitu.

Kita benci dengan acara TV, lagu-lagu, film, sinetron, iklan, dan lain-lain yang berbau maksiat. Namun, solusi riil yang kita lakukan yang membuat umat terutama saudara kita yang awam terpuaskan dahaga hiburannya dengan nilai yang mulia. Selain berdakwah kepada mereka, pernahkah kita berupaya membuat film, sinetron, atau lagu bermutu, lalu membuat sarananya berupa radio, TV, atau PH (Production House, red) yang dikelola secara profesional yang sanggup bertarung dalam kompetisi nyata. Atau minimal, pernahkah kita mendukung orang atau organisai yang berupaya memberi solusi denganm dukungan moral atau material.

Kita sangat tidak suka dengan adanya kemaksiatan, diskotik, panti pijat yang penuh kemaksiatan, perjudian, atau aneka jenis bentuk kemaksiatan lainnya yang ada disekitar kita. Akan tetapi, pernahkah kita berupaya mendakwahi mereka secara bijak, sistematis, dan sungguh-sungguh untuk membatu mereka menemukan arti hidup, menyadarkannya, lalu berupaya mencarikan alternatif lapangan pekerjaan, atau lahan untuk mencari nafkah yang halal atau baru? Bukan malah menganggap mereka sebagai sampah masyarakat yang harus diberantas dan dihancurkan.

Bisa saja kita mengatakan, urusan lapangan kerja adalah urusan pemerintah, bukan urusan kita, justru bisa jadi, alasan itulah yang bisa membuat kita tak melangkah jauh untuk mencari solusi. Bisa jadi, bahasan di atas terlalu besar untuk ukuran kita. Marilah kita lihat solusi yang bisa kita berikan terhadap lingkungan terdekat kita. Jika kita di dalam keluarga, jadilah solusi jangan jadi benalu. Kita harus terlatih menjadi bagian dari penyelesai masalah, bukan penambah masalah.

Begitu pun dengan masyarakat sekitar, dengan rajinnya para remaja masjid membersihkan lingkungannya, menjaga keamanan, menjadi tim pemadam kebakaran, membuat lahan wirausaha yang nyata, bersikap sopan santun yang menyenangkan, rajin, serta aktifnya dalam hiburan dan olahraga dengan memberi suri tauladan akhlak serta nilai-nilai Islami, penggalangan dana dengan profesional dan pemberian modal bergulir, terlibat dengan pembangunan rumah tetangga yang fakir dan tindakan realistis lainnya yang menjadi solusi. Insya Allah remaja masjid tersebut akan disegani, dihormati, dan diakui keberadaannya. Kalau sudah seperti ini, Insya Allah pendapat, saran, dan dakwahnya akan sangat didengar sehingga bisa menentukan kebijakan di lingkungannya.

Tampaknya, jikalau umat Islam berpikir sangat keras dan mengerahkan segala daya upaya untuk menjadi solusi nyata dalam level manapun yang sesuai dengan kesanggupan maksimalnya masing-masing, akan jauh lebih dirasakan kehebatan Islam, kesuksesan Islam, dan akan menumbuhkan keyakinan bahwa Islam memang solusi. Solusi yang memang selalu dicari dan dirindukan.

Begitupun seluruh rakyat dan negara ini akan sangat merindukan Islam apabila memang kita bisa memberikan solusi yang bisa dibuktikan dan dirasakan mamfaatnya secara nyata. Tentu saja akhirnya akan bisa menimbulkan kepercayaan terhadap kebenaran Islam dan mengikuti serta membelanya. Sebagaimana Allah berfirman, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al A'raf : 96).

Saudara-saudaraku, marilah kita hemat energi kita dari tindakan apapun yang akan menguras kemampuan kita. Sehebat apapun janji yang kita ucapkan, tetap saja, masyarakat menanti bukti bahwa Islam benar-benar solusi bagi bangsa kita ini.

Ada baiknya kita melirik diri kita kembali, apakah diri kita ini bagian dari penyelesai masalah, atau diri kitalah yang bermasalah, atau justru diri kitalah penambah masalah?***

phox: 29 mei 2011


Teman yang bsa diajak berbicara dan bersenang-senang, seperti yang aku impikan selama ini. Kita bisa ngobrol tentang buku dan politik dan melakukan aksi vandal di malam hari. Bersedia???
 Hey, aku tidak bisa berhenti menjambak rambutku sendiri. Brengsek!!!?
Tuhan Yang Maha Kuasa, cintai aku, aku, aku, kita bisa melakukan masa percobaan dulu, please…! Aku Cuma butuh teman, orang-orang dan alasan untuk tersenyum. Aku tidak akan menghalangimu..
Ah sial… sial.. tolong.. ada orang gak sih di sana??? Siapapun.. Tuhan tolong, tolong aku. Aku ingin diterima, aku harus diterima. Aku akan selalu mengikuti syaratMu, aku lelah menangis dan bermimpi, aku sangat kesepian.
Ada orang gak sih??? Tolong aku, TOLONG AKU…!!! (phox: 29 mei 2011)

Menikmati Kritik dan Celaan


Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.

Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.

Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.

Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.

Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Yunus [10] : 65)

Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!

Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, "Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali Imran [3] : 26)***

Secuil Tips Menyikapi Hidup

Ketika kesulitan hidup itu datang, hati berubah gundah, kesana-kemari seolah mencari sesuatu yang hilang. Tekanan darah naik, darah pun mengalir tak beraturan, menekan keras ke otak hingga membuatnya panas, lalu mengendap di dada menekan paru-paru hingga nafas terasa berat, detak jantung tidak menentu, dada berdebar-debar menekan balik darah. Sementara itu keringat dingin pun membeku, dan sekujur tubuh terasa pegal. Emosi kian memuncak, dengan sorotan mata yang tajam dan pikiran berputar-putar mengitari tumpukan segala kegundahan.

Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya. Namun hal ini hanya terjadi pada kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari tuntunan Al-Qur`an. Jauhnya mereka dari tuntunan Al Qur'an menyebabkan mereka gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka dari kebahagiaan hidup.

Seorang mukmin tentu berbeda dalam menyikapi berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.Mereka memahami bahwa kesulitan atau ujian diberikan oleh Allah dalam rangka menguji hamba-Nya. Dan mereka tahu bahwa kesulitan itu dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak tulus dalam meyakini keimanan mereka. Karena itu, ujian atau kesulitan yang hadir dalam kehidupan kita akan menunjukkan siapakah kita sebenarnya.  Allah menjelaskan melalui firman-Nya, bahwa Dia akan menguji manusia untuk melihat siapakah yang benar-benar beriman.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 142)

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)...."(al-Baqarah: 179)

Ketika membaca terjemahan ayat tersebut, hendaknya semakin menambah kesadaran kita bahwa kehidupan ini memang dipenuhi dengan aneka masalah dan berbagai kesulitan. Karena dunia ini merupakan Darut Taklif, maksudnya adalah tempat pembebanan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari masalah selama mereka hidup di dunia. Dan sungguh merugi orang yang larut dalam kesedihan, kesedihan yang panjang justru akan semakin menyulitkan diri dalam menghadapi masalah. Hanya dengan keberanian untuk bangkit dan bersabar, kesulitan itu akan terasa mudah. Berbahagialah orang yang mampu bersabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup, karena Allah beserta orang-orang yang sabar.

Sesal


Orang mencoba obat iblis, ganja (walau sedikit saja), mereka banyak buang-buang waktu, saling bunuh, punya skandal dan menganiaya orang…. Bagiku itu adalah kesenangan yang terlalu hebat dan terlalu berlebihan.
Setiap kali pulang, rasanya seperti mengalami de javu yang selalu membuatku merinding, sangat tertekan, penuh kebencian dan kemarahan yang tidak akan hilang selama bertahun-tahun. Kotak-kotak yang berisi sampul kaset dari band rock, metal dan gambar-gambar daun marijuana yang bertuliskan “ini yang kamu perlu” atau “bersenang-senanglah” dan gambar-gambar wanita-wanita sexy.
Aku melihat sekelilingku dan menemukan poster-poster Nirvana yang sudah berlubang dan sobek tertempel di dinding dan karpet lusuh yang sering terkena muntahan…
Aku melihat sekelilingku dan menemukan semua barang busuk itu, dan yang paling jelas menunjukkan masa remajaku yang hancur adalah, setiap kali aku masuk kamar dan menyentuh tembok kamarku, aku merasakan sisa asap ganja dan rokok yang terasa lengket.
Tapi aku mengerti semua intinya, ganja itu menyebalkan, Aku tau jelas dari pengalamanku sendiri karna pada saat aku mengalaminya aku menjadi sangat lemas seperti roti basi yang terkena air. Aku berfikir itu menjadi masalah bagi orangtuaku dan aku.


Nirvana - You Know You're Right


Nirvana - Breed (Live At The Paramount/1991)


Nirvana - The Man Who Sold The World


Audioslave - Show Me How To Live


Audioslave - Cochise


Pribadi Muslim Berprestasi


Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!

Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.

Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.

Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.

Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.

Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.

Misalnya saja shalat, "Qadaflahal muminuun. Alladziina hum fii shalaatihim" (QS. Al Muminuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina human shalatihim saahuun" (QS. Al Maauun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!

Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.

Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermamfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.

Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.

Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.

Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.

Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!

Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...! (QS. Ali Imran [3] : 110).

Mata Pena kadang Lebih Tajam dari Mata Pedang


Kalau kita saban hari melihat berita di TV, radio atau baca koran. Pernahkah ter betik pikiran dalam benak kita, kenapa kalau ada saudara-saudara kita sesama mus lim yang sedang berjuang mempertahankan negaranya, misalnya di Palestina, Irak , Bosnia , Chehnya, Philipina, atau dimana saja. Lantas semua berita menyebut para pejuang yang saudara kita itu dengan 'embel-embel' : militan, fundamental, garis keras bahkan yang akhir-akhir ini gencar di'populerkan' adalah istilah teroris?. Misalkan yang 'diobok-obok' itu adalah negara kita, kemudian kita membela negara kita mati-matian. Tiba-tiba saja semua TV, radio dan koran menyiarkan, bahwa ki ta yang sedang berjuang itu ternyata diberitakan sebagai kaum fundamentalis, mi litan, garis keras dan teroris. Tentu marah besar kita. Bisa jadi semangat kita dalam berjuang jadi berlipat-lipat karena bercampur rasa marah itu.  
Sekarang pertanyaannya, kenapa TV, radio dan koran kita memberitakannya seperti itu ?. Inilah salah satu kelemahan perusahaan-perusahaan media kita, hampir se mua berita, maksudnya berita luar negeri yang berhubungan dengan kejadian-kejadi an di negara-negara muslim, semua media kita biasanya hanya membeli beritanya da ri perusahaan-perusahaan media asing, misal : CNN, BBC, AFP, Washington Post, AP , Reuter, dll. Kemudian oleh media kita diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia , lantas diterbitkan. Esok harinya, kita semua sebagai pembaca yang hanya 'tahu ja di', langsung saja mengkonsumsi kata-kata 'militan-fundamental-garis keras dan teroris'. Padahal semua perusahaan media asing yang disebut di atas, bisa dipas tikan bukan milik orang muslim, termasuk wartawan/reporter yang menulis berita di tempat kejadian. Maka masuk akal bila mereka suka menyebut saudara-saudara ki ta dengan istilah-istilah seperti itu. Yang patut disayangkan, banyak pembaca yang masih saudara kita sesama muslim ternyata menelan begitu saja semua istilah itu. Maka jadilah sesama (negara) muslim saling curiga dan waspada.
Ghazwul Fikri.......
 
Nuansa pemberitaan lain akan kita jumpai bila kita membaca majalah-majalah Islam  seperti : Sabili, Hidayatullah, Hidayah, Tarbawi, dll. Majalah-majalah ini cukup selektif dan cerdik. Mereka mencari berita dari sumber-sumber Islami, dari kan tor-kantor berita asing di negara Islam. Sehingga yang muncul adalah istilah-is tilah yang sesuai dan layak, misalnya : Pejuang, Mujahid, Syuhada, Pahlawan,dll. Nada beritanya pun tidak terkesan 'miring'. Hal demikian terlihat pula pada web site/situs islami di internet. Pada kasus yang sama, namun nampak nyata perbeda an kandungan beritanya.  
 
Sahabat, meskipun (masih) dalam skala kecil, mari berusaha 'bergerilya' guna memperbaiki citra Islam yang rusak akibat pemberitaan media asing di atas. Kita usahakan senantiasa membaca dan menulisnya dari sumber-sumber Islami. Kalau memang manis mari kita sampaikan dengan manis, sebaliknya kalau adanya pahit, maka kita sampaikan ditampilkan dengan pahit pula. "Katakanlah yang benar walau pun pahit", demikian pesan Rasulullah SAW.

Malam Itu


Malam Itu
syahdan .. seorang putri melantunkan kisahnya , sembari menitikkan airmata ...
inilah sepenggal untaian kata-katanya nya ....
" karena ia seorang suami yang setia, dan sangat mencintai istrinya,
maka aku hanya bisa merindukannya, tapi tak pernah bisa memilikinya,
dan aku hanya diam seribu bahasa, sambil menitikkan airmata, tatkala dengan sopan ia berkata : "
" Istriku memang tidak secantik kamu, tapi ia telah menjadi bagian dari hidupku,
istriku memang tidak semuda usiamu, tapi ia telah memberi kebahagiaan padaku,
istriku memang tidak sepintar dirimu, tapi ia telah menemani dan membantuku,
mengatasi kesulitan dan juga kesedihanku, dan yang dapat aku berikan kepadanya, hanyalah kesetiaanku belaka,
dan aku bersumpah atas nama cinta, sampai akhir hayatku,
sampai ajal tiba, aku tak akan pernah berpaling darinya, aku akan setia hanya pada dirinya...."
putri itu menangis ... tertunduk ..
dan ... berlalu ... terbersit harapan, ada lelaki lain tempat melabuhkan hatinya
------------ sang putri kini bukan putri yang dulu lagi ..
keriput diwajahnya nampak jelas,
sambil menekuni jahitannya sang putri berkata pada anak gadisnya ...
"anakku ...
Ada dua perkara yang akan mengawali, dan yang akan mewarnai kehidupan suami istri.
Pertama tentang kesediaan menerima dan memberi.
Kedua ihwal mengerti apa yang dimiliki dan mensyukuri.
Kesediaan menerima kekurangan pasangannya,
dan kesediaan memberi yang terbaik pada belahan jiwa,
hendaknya dipahami sebagai keikhlasan yang niscaya, demi terciptanya kebahagiaan rumah tangga.
Hendaknya pula setiap suami dan setiap istri mengerti apa yang dimiliki, agar dapat mensyukuri.
Dan ketahuilah wahai anakku , bahwa suami yang rela menjadi milik istrinya, dan istri yang ikhlas menjadi milik suaminya, sesungguhnya telah memiliki segala-galanya. " ...
------------ krik krik krik ....
nun jauh dikegelapan malam ...
seekor jangkrik asyik menikmati tingkah laku anak adam ....
wassalaamualaikum warahamatullaah wabarakaatuh

Di Kritik... Jangan Sedih


kedengkian mereka kepada Anda bila Anda hadapi dengan sikap yang sabar, maka sesungguhnya akan membuat Anda mendapat pahala karenanya. Selanjutnya, kritikan mereka itu menunjukkan harga bobot Anda. Orang yang berakal sehat tidak akan menendang anjing yang telah mati dan orang-orang yang dianggap sepele tidak akan ada orang yang dengki kepadanya.
Seorang penyair mengatakan:
Sesungguhnya orang-orang yang mulia lagi terhormat pasti engkau jumpai banyak yang dengki kepada mereka
Dan engkau pasti tidak akan menjumpai
orang-orang yang tercela ada yang dengki kepada mereka

Penyair lain mengatakan:
Mereka mendengki pemuda sejati karena mereka tidak berhasil seperti dia
dan seniua orang pasti akan membenci dan ineinusuhinya
Sania halnya dengan istri cantik yang memiliki banyak madu
para madu ini pasti akan mengatakannya bahwa ia buruk rupa
karena dengki dan benci kepadanya

Zuhair mengatakan dalam bait syairnya:
\Banyak orang yang dengki kepada mereka karena mereka hidup senang
padahal kedengkian orang-orang yang dengki tidak dapat mencabut kesenangan
yang telah Allah berikan kepada mereka

Penyair yang lain mengatakan:
Mereka tetap dengki kepadaku sekalipun aku telah mati
Sungguh menyedihkan
sampai setelah matipun  aku tidak pernah terbebas dari kedengkian orang

Seorang penyair mengatakan:
Engkau mengeluh karena sikap aniaya para pengumpat
dan engkau tidak akan mer jumpai orang yang mulia
inelainkan pasti ada yang dengki kepadanya
Wahai keturunan orang-orang yang mulia, kedengkian terhadapmu
tidak pernah padam, karena hanya orang rendah lagi miskin sajalah
yang tidak dijumpai pendengkinya

Penyair lainnya lagi mengatakan:
Bila kemuliaan seorang pemuda mencapai setinggi langit
dan dia menjadi seakan-akan salah satu di antara bintang-bintangnya
orang lain pasti akan menghujaninya dengan berbagai cercaan yang tidak layak
padahal cercaan mereka tidak dapat meraih hasil apa pun yang mereka dambakan
Musa as pernah meminta kepada Tuhannya agar membung­kam mulut manusia yang dengki kepada dirinya, maka Allah menjawab: "Hai Musa, kalau Aku, Aku tidak akan menggubris hal tersebut. Sesungguhnya Aku telah menciptakan mereka dan memberi mereka rizki, tetapi mereka mereka balas mencaci dan memaki-Ku."
Dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah telah berfirman: "Anak Adam mencaci dan memaki-Ku, padahal tidak pantas ia berbuat demikian. Adapun caciannya terhadap-Ku karena dia mencaci masa, padahal Aku adalah (yang menciptakan) masa: di tangan kekuasaan-Kulah semua urusan. Aku membolak-balikkan madam dan siang menurut apa yang Kukehendaki Adapun makian­nya terhadap-Ku karena dia mengatakan bahwa Aku mempunyai istri dan anak, padahal Aku tidak punya istri dan tidak pula anak. "6"

Sesungguhnya Anda tidak akan dapat mengekang mulut manusia untuk tidak menebar kebohongan tentang kehormatan Anda, tetapi Anda mampu berbuat kebaikan dan menghindari ucapan dan kritikan mereka.

Hatim mengatakan:
Betapa seringnya aku inendengar kata-kata orang yang dengki
padahal aku tidak bersalah, maka kukatakan:
Berlalulah dariku, engkau tidak akan mempengaruhiku."
Mereka mencela diriku dengannya, padahal aku tidak tercela olehnya dan sama sekali tidak menyebabkan keningku berkerut karenanya

Penyair lainnya mengatakan:
Sesungguhnya aku bersua dengan orang yang kurang akalnya
lalu ia mencaciku,maka saat itu juga aku berlalu darinya seraya berkata:
"Tidak ada gunanya bagiku melayaninya"

Penyair yang lainnya lagi mengatakan:
Jika orang yang kurang akalnya berbicara, janganlah engkau menanggapinya
Sikap yang paling baik untuk  menghadapinya adalah diam
Sesungguhnya orang-orang yang rendahan lagi merugi akan menemukan tantangan sikap yang acuh tak acuh dari orang-orang yang mulia, cemerlang, lagi genius.
Apabila kebaikan yang telah kulakukan, dianggap sebagai suatu kesalahan
maka ajarilah aku bagaimana aku harus beralasan

Kebanyakan para hartawan hidupnya dilanda oleh stress. Hanya bila indeks saham mereka naik, barulah tekanan darah mereka turun menjadi stabil. "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam
Huthamah. *'(Qs 104:1-4)
Seorang pujangga Arab mengatakan: "Lakukanlah sesuatu yang benar, kemudian palingkanlah diri Anda dari setiap kritikan yang tak beralasan."
Termasuk hal yang berfaidah dan pengalaman yang berharga adalah saran-saran berikut:
Jangan Anda balas setiap kalimat, ucapan, atau syair yang melukai diri Anda dengan hal yang semisal. Sesungguhnya sikap tegar Anda akan mengubur kelemahan Anda; sikap santun Anda akan memuliakan diri Anda; sikap diam Anda akan mengalahkan musuh-musuh Anda; dan sikap pemaaf Anda akan mendatangkan pahala dan kemuliaan bagi diri Anda. Sebagian orang-orang yang membaca cacian yang ditujukan terhadap diri Anda dalam waktu yang dekat akan melupakannya dan sebagian yang lain tidak membacanya, sedang yang lainnya lagi tidak mau tahu sebab dan permasalahannya. Oleh karena itu, jangan Anda masukkan hal tersebut ke dalam lubuk hati Anda yang pada akhirnya mendorong Anda untuk melayaninya.

Salah seorang yang bijak mengatakan: "Banyak orang yang melupakan diriku dan diri Anda karena krisis pangan yang mereka alami. Sesungguhnya kehausan yang dialami oleh seseorang dari mereka sudah cukup menjadi faktor yang menyebabkan mereka melupakan kematian diriku dan diri Anda."

Seorang penyair mengatakan:
Sembunyikanlah kesusahan dan kesedihanAnda dari teman-teman duduk Anda
bila teman-teman duduk Anda hanya terdiri dari para pendengki
dan orang-orang yang senang dengan penderitaan Anda
Rumah tangga yang penuh dengan ketenangan sekalipun hanya punya roti gandum jauh lebih baik daripada rumah tangga yang penuh dengan beraneka ragam lauk-pauk yang membangkitkan selera makan, tetapi penuh dengan keri ibutan dan kekacauan.
RENUNGAN
Jangan bersedih, karena penyakit dapat diobati; musibah pasti akan berlalu; dosa akan diampuni; utang dapat dilunasi; yang dipenjara pasti akan bebas; yang absen pasti akan datang; yang durhaka dapat bertobat, dan yang fakir akan beroleh kecukupan.
Jangan bersedih. Pernahkah Anda melihat awan vang hitam bagaimana ia tersingkapkan: malam yang gelap bagaimana ia menjadi terang: angin yang ribut bagaimana ia menjadi reda; dan badai yang mengamuk, bagaimana ia menjadi tenang kembali? Kalau demikian, berarti semua kesulitan Anda akan berakhir dengan kemakmuran; kehidupan Anda sekarang akan menjadi senang; dan masa depan Anda akan menjadi cerah.
Jangan bersedih. Sengatan panas mentari dapat dijinakkan oleh naungan yang teduh; rasa haus di tengah hari dapat disejukkan
oleh air yang jernih lagi menyegarkan; perihnya rasa lapar yang mendera perut dapat diredakan dengan roti yang hangat; derita susah tidur akan dtiringi dengan tidur yang nyenyak: dan pedihnya rasa sakit akan terlupakan oleh nikmatnya kesehatan. Semuanya itu dapat Anda raih hanya memerlukan sedikit kesabaran Anda dan ketabahan Anda dalam menunggu tibanya saat tersebut.
Jangan bersedih. Para dokter kebingungan: orang-orang yang bijak tidak berdaya; para ulama terdiam, para penyair saling bertanya; dan semua upaya menemui jalan buntu menghadapt kekuatan taqdir, ketentuan qadha', dan kepastian terjadinya taqdir.
'Ali bin Jabalah mengatakan:
Semoga jalan keluar akan menjadi kenyataan Semoga jiwa kita terhibur oleh harapan
Jangan engkau putus harapan
jika engkau merasakan kesedihan mulai mencekam jiwa
Saat yang paling dekat bagi seseorang untuk mendapat jalan dari kesusahannya ialah bila ia mulai  putus harapan

Ghibah Sumber Segala Keburukan


Rasulullah SAW bersabda “Muslim dengan Muslim lainnya bersaudara. Tidak boleh mengkhianati, mendustakan, dan menghina. Setiap Muslim dengan Muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Seseorang layak dikatakan jahat jika ia mencaci saudaranya sesama Muslim. “Merendahkan derajat kemanusiaan dengan cara menggunjingkannya termasuk perbuatan yang dicela dalam Islam. Inilah pemaknaan gibah yang sesungguhnya; menjatuhkan kemuliaan manusia dengaan menceritakan aibnya. Perbuatan gibah erat kaitannya dengaan interaksi sesama manusia, dan dosa pelakunya tidak akan diampuni selama belum mendapatkan pemaafan dari korbannya. “Hidup hanya sekejap, kenapa repot dengan urusan orang lain?“ kilah Ustad Budi Prayitno, penulis Spiritual Tipping Point.

”Gibah itu akar dari segala kejahatan,“ ujar Astie Ivo, artis. Gibah adalah membincangkan saudaramu dengan cara tertentu sehingga dia tidak akan senang bila mendengar hal itu. Apa pun yang kau bincangkan mengenai cacat fisik, asal usul silsilah, tingkah laku, akhlak, keyakinan atau bahkan pakaian, rumah atau kendaraannya, semua itu merupakaan gibah. Gibah dikategorikan sebagai dosa yang paling dibenci dan kotor. Karena alasan inilah gibah disebut sebagai dosa yang lebih buruk daripada perzinaan dan pencabulan.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penberimatobat lagi Maha Penyayang.“ (Al -Hujurat (49) : 12).

Tukang gibah melakukan dua pelanggaran. Pertama, ia berdosa kepada Allah, dan sudah semestinya ia menunjukkan penyesalan dengan bertobat. Kedua, ia menzalimi hak saudara seimannya. Jika kabar mengenai pergunjingan sampai kepada pihak yang digunjingkan, sang penyebar gossip harus meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan mengungkapkan penyesalaan telah mengatakan kabar tak sedap itu. (Buku Gibah oleh Shakil Ahmad Khan & Wasim Ahmad). Terkait ini, Ibnu Katsir menulis “Orang –orang menyatakan bahwa memohon maaf kepadanya bukanlah sebuah kondisi (pertobatan akan gibah), karena jika Anda mengatakan kepadanya tentang hal ini, mungkin lebih menyakitkan baginya daripada jika ia tak mengetahuinya.” Namun jika orang tidak khawatir timbulnya kemudaratan akibat permintaan maaf kepada orang yang dipergunjingkan, disarankaan untuk meminta maaf.

Ijma’para ulama telah menetapkan gibah sebagai perbuatan terlarang, dan termasuk dosa besar, karena bertentangan dengan perintah Allah. “Dan ucapkaanlah kata-kata yang baik kepada manusia“ (Al Baqarah (2) : 83). Walaupun para ulama berbeda pendapat dalam memutuskan hukuman terhadap penggunjing, tetapi mereka sepakat bahwa sebagai langkah awal si penggunjing harus bertobat. Mujahid berkata, “Pertobatan atas memakan bangkai saudaramu adalah engkau memuji dan mendoakan kebaikan atasnya. Demikian pula jika yang kau gunjingkan telah meninggal.“ Kita semua pernah berbuat dosa. Mengapa kita tidak saling memaafkan satu sama lain, sehingga kita meraih ampunan Allah atas segala dosa kita? Dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap Bani Adam mempunyai kesalahan dan yang paling baik dari mereka adalah yang bertaobat “ (HR.Turmuzi ).

Nabi SAW menjelaskan bahwa orang yang doyan menggibah, di akhirat akan bangkrut. Karena pahalanya digunakan untuk diberikan kepada orang digibahi. Bahkan kalau pahalanya ludes, maka dosa orang digibahi akan berpindah kepada si penggibah. Dikisahkan, bahwa satu hari ada seseorang menggibahi Al Hasan Al Basri. Bagaimana reaksi sang ulama besar kota Basrah ini? “Beliau mengirimi si penggibah itu sepiring buah palem dengan pesan, Aku mendengar bahwa kamu telah memberiku hasanah-mu sebagai sebuah hadiah, dan aku ingin mengembalikan kebaikan itu. Mohon maaf karena aku tidak mampu mengembalikannya secara utuh.“ Gibah pada kenyataannya adalah kebaikan dari pelakunya. Dari ‘Amrs bin Al ‘Ash bahwa ia melalui bangkai keledai, dan berkata kepada beberapa temannya, “Lebih baik jika seseorang makan daging ini sekenyangnya-kenyangnya daripada makan daging bangkai saudaranya sesama Muslim.”

Seorang lelaki menyebutkan esuatu yang buruk tentang seseorang kepada temannya. Temannya itu berkata, “Apa kamu pergi dan memerangi bangsa Romawi?” Ia menjawab, “Tidak!“ Temannya bertanya “Apakah kamu pergi dan memerangi bangsa Turki?” Ia menjawab, “Tidak.“ Lalu temannya itu berkata, “Bangsa Romawi selamat darimu, dan orang-orang Turki selamat darimu, tapi saudara-saudaramu umat Muslim tidak selamat darimu!” Jabir bin Abdullah RA berkata, “Kami bersama-sama Rasulullah, kemudian tercium bau busuk. Rasulullah SAW. bersabda, ‘Tahukah kamu bau apakah ini ? Ini bau busuk orang-orang yang menggunjingkan orang beriman.“ (Musnad Ahmad).

Jangankan menggibah, bahkan mendengar dan atau memperhatikan gossip saja, adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan manusia dihadapan Allah. Adalah terlarang untuk duduk bersama orang yang bergosip dan bergunjing. Menolak mendengarkan gibah dan ucapan yang buruk adalah salah satu ciri orang beriman. Kehormataan orang beriman harus dibela dengan mengkritik perkataan tukang gossip atau dengan mengatakan hal-hal yang baik dan benar adanya tentang orang yang digunjingkan. Rasul SAW berpesan, “Barangsiapa melihat kejahatan, hendaknya dia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, lakukan dengan lidahnya; atau jika ia tidak melakukannya,hendaknya ia menetangnya dalam hati, dan itulah selemah-lemahnya iman.“ (HR.Muslim).

Menyendiri akan membantu kita untuk mengingat Allah sehingga terbaca hikmah kehadiran tanda-tanda-Nya. Juga akan menjauhkan kita dari gunjingan, karena bergunjing hanya akan menuntun kita pada dosa-dosa lainnya. Menyibukkan diri dalam usaha mencegah gibah adalah jihad, bahkan termasuk jihad terbesar. Jihad melawan musuh-musuh Allah mungkin hanya untuk waktu tertentu dalam kehidupan seseorang. Tetapi pertarungan mengendalikan ogo hanya akan berakhir ketika hidup orang tersebut berakhir. Usaha untuk membebaskan ego dari kemunafikan, prsasangka, dan bangga diri merupakan sebuah misi kehidupan yang panjang dan terus menerus.Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW,bersabda, “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang dapat menahan dirinya ketika marah “(HR.Muslim). Juga Rasulullah SAW mengingatkan, “Tidak lurus keimanan seorang hamba hingga kalbunya lurus, dan tidaklah lulus kalbunya hingga lisannya lurus. Dan seseorang tidak akan masuk surga bila tetangganya tidak merasa aman dari berbagai kejahatannya “ (HR.Ahmad). Wallahualam. **

Hidupku gak panjang lagi


Malam ini hujan terasa begitu menghentak
dingin nya menusuk relung hati
ku duduk di balik jendela
sesekali sambaran kilat dan cahayanya menghiasi malam ini
dalam hati ku bertanya…
akan kah ku menikmati malam seperti ini???
sementara dokter dan malaikat itu sudah mengingatkan aku!!!
waktu yang tak bnyak dan teramat singkat
rahasia antara aku,kau, dokter dan tuhan
cuman kita yang tau tentang aku
meja operasi siap untuk ku hadapi
tapi rasa takut lebih besar dari rasa siapku untuk menghadapi meja operasi!!
dokter bukan kah engkau bilang kalau virus itu memakan sel darah merah aku??
apa dengan di operasi virus itu bisa terangkat??
sementara anda sendiri yang bilang kalau virus nya memakan sel darah merah aku??
itu berarti di seluruh tubuh aku ada virusnya??
karena sel darah merah aku kan mengalir di seluruh tubuh ini??
tanya dalam hati, dokter jangan lah kau bodohi aku dengan jalan operasimu itu!!!
apa kah itu hanya hiburan untuk aku??
dokter biarlah aku selesaikan hidupku di taman itu…
bukan di meja operasi yang penuh dengan barang yang sama sekali tak aku kenali…
doker jangan lah kau jadikan aku bahan percobaanmu untuk suatu hal yang belum pasti…
biarkan ku habiskan sisa hidupku ini tanpa cacat di tubuhku…
sekarang hanya ada aku, kafan itu, keranda itu, dan liang lahat itu di mataku….
yang smuanya siap mengiri ke tempat terakhirku…
hidupku tak terlalau suram dan tidak juga menyenangkan…
tapi biarkanlah aku pergi dengan senyuman yang tenang….
rahasia ini tak boleh ada kelaurga yang tau….
dan sahabat ku titipkan ini untukmu, sebagai kenangan kisah kita berdua,,,
jangan lah kau hujat aku tentang masalah keluarga, cukup kau yang ku repotkan untuk hidupku…
selamat jalan kawan mungkin kita bertemu di waktu dan tempat yang berbeda…
aku menunggu mu di sana…
sampaikan salam dan maaf ku untuk semua,,, terutama keluarga…..

Bahaya Lisan


Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.

Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari). Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.

Tuhan vs Tukang cukur

Pernah terjadi di Rusia di sebuah negeri yang terkenal atheis, seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk. Kepalanya mulai mengangguk-angguk karena kantuk. Tukang cukur merasa kesal, namun untuk membangunkan pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara: ‘Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?’ Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’ Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, ‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!’ ‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya. ‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah, terlilit hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini khan buktisederhana bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’ tukang cukur berbicara dengan cukup lantang. Si pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban. Maka pembicaraan pun terhenti. Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan. Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat. Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas perdebatan kecil yang baru ia jalani. Saat berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar, saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya. Matanya tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut panjang tak terurus, janggut lebat berantakan. Demi melihat hal sedemikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata,‘Pak, menurut saya yang tidak ada di dunia ini adalah TUKANG CUKUR!’ Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda berkata demikian. Padahal baru saja rambut Anda saya pangkas!’ ‘Begini pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang tak terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan penjelasannya. Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak, bukan Tukang Cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang Anda ceritakan tidak mau hadir dan datang ke sini, ke tempat saya. Andai dia datang, maka rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!’ Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, ‘Naaaahhhh…. itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!’ ‘Apa maksudmu?’ si tukang cukur tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya. ‘Anda khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya masalah. Kalau saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!’” semoga bermanfaat...